Halo.. Halo..
Follow twitter ku ya.
@riko_damasus
monggo klik aja link nya.. :D makasih
youtube
Saturday, November 03, 2012
Thursday, October 04, 2012
Perjalanan Bersama Truk Ekspedisi
Punya banyak istri dan erat dengan prostitusi memang terkadang membuat profesi seorang sopir truk dipandang miring. Kadang polisi pun juga menjadikan mereka sasaran pungli di sepanjang jalan. Tapi mari kita lihat, tanpa jasa mereka, roda perekonomian antar pulau tak mungkin dapat berputar.
Waktu itu, Labuan Bajo nampak ramai sekali. Puluhan perahu nelayan memenuhi pelabuhan laut di ujung barat Pulau Flores itu. Sebuah kapal feri pun ikut bersandar tak jauh dari tempat itu. Tidak terlihat antrian tiket di loket. Karena ragu melihat lengangnya antrian tiket, kuberanikan diri bertanya pada petugas apakah ada feri ke Sape atau tidak. Lega dalam hatiku karena masih ada feri yang berangkat jam tujuh malam nanti. Tanpa pikir panjang aku segera beli tiket, lalu bersiap-siap keluar dari penginapan yang aku pesan beberapa jam lalu. Biarlah, aku harus berhemat waktu untuk menyelesaikan perjalananku yang melelahkan ini.
Jam setengah tujuh aku segera bergegas memasuki feri. Hanya sepintas petugas pelabuhan melirik tiketku lalu membiarkanku berjalan menuju feri. Mungkin nggak usah bawa tiket pun nggakpapa. Setelah melalui deretan lelaki yang duduk di pagar besi pembatas laut dan dermaga, belasan truk-truk raksasa, dan beberapa anak penjaja mutiara, masuk ke feri. Feri nampak longgar. Rupanya tak banyak penumpang yang naik karena ombak memang sedang tinggi-tingginya. Tapi bagian dasar kapal hampir penuh oleh truk-truk ekspedisi dan mobil.
Dalam perjalanan malam itu aku berkenalan dengan Stephen dan Karel. Yang satu kernet truk Kawi Indah, yang lainnya mantan pemburu paus di kepulauan Alor dan Solor. Karel asyik mengisahkan petualangannya berburu paus hingga tertangkap polisi perairan Australia, sedangkan Stephen cuma jadi pendengar setia. Akhirnya, feri sampai di Sape jam 3 pagi. Step menawari menumpang truknya sampai ke Bima. Tanpa pikir panjang aku menerimanya daripada kedinginan menunggu bus Sape - Bima yang baru tiba jam 7 pagi. Walau tampak pendiam, Pak Tua, panggilan akrab sopir Kawi Indah, amat ramah dan baik hati. Dia tak hanya mengantarku sampai ke Bima, tapi hingga ke perbatasan Lombok Tengah dan Timur. Mungkin jika tak ada keperluan di Praya, aku bisa ikut mereka ke Surabaya.
Truk Pak Tua melaju di jalan yang sangat lengang. Selain kami, ternyata masih ada 4 truk lagi di belakang. Konvoi truk ini membelah pagi yang dingin, berjalan beriring. Baru 2 jam perjalanan, sebuah truk menyalip sambil menyalakan klakson, mengajak Pak Tua berhenti. Ternyata, salah satu truk bannya meletus. Setelah menghentikan truk, semua awak turun. Sebagian membantu temannya yang terkena musibah, sebagian lagi istirahat dan asyik mengobrol di pinggir jalan.
Dan ternyata, ban meletus merupakan makanan kami sepanjang jalan. Dari truk yang satu ke truk lain, dari ban depan ke ban belakang. Tak kurang 2 - 3 kali ban sebuah truk meletus dalam semalam. Maklum, perjalanan memang panjang, bahkan puluhan ribu kilometer. Medan jalan pun berat, berliku, berbatu, rusak, atau aspal berpasir. Belum lagi beratnya beban yang dibawa, hingga 5 - 20 ton. Pantas kalau ban-ban truk ini cepat gundul. Truk-truk ini mengangkut hasil bumi dari flores seperti kopi, cengkeh, coklat, pisang, dan vanili. Tujuannya beragam. Ada yang ke Denpasar, Surabaya, dan Jakarta. Seperti Pak Tua yang mengangkut coklat menuju Surabaya.
Ternyata upah sopir truk seperti Pak Tua cukup besar. Sekali angkut barang ke Surabaya, dia dibekali uang jalan Rp 5-8 juta. Sebagian untuk pengeluaran seperti solar, tiket ferry, makan, dan dana darurat kalau-kalau ada kerusakan truk yang tak bisa diatasi sopir. Sisanya buat ongkos sopir truk dan kernet. Sayangnya uang jalan mereka kerap terpangkas untuk membayar pungli petugas dan pak polisi. Pak Tua dan kernetnya masih menerima upah bulanan dari bos. “Yah. pokoknya cukup untuk makan,” katanya tanpa mau menyebut jumlahnya.
Paginya kami beristirahat di sebuah warung kecil pinggir jalan, beberapa km di luar kota Bima. Sarapan pagi itu cukup dengan kopi, indomie, dan roti kampung. Para sopir nampak guyup dan akrab, saling bersenda gurau. Seperti saudara saja. Botol moke (semacam arak) dibagikan.
Selesai sarapan, dua polisi bermotor menghampiri. Mereka tampak berdebat dengan seorang sopir dan teman-temannya. Pungli kata Pak Tua. Entah apa kesalahan mereka, dua polisi menarik sebuah truk Rp 50.000. Ongkos parkir pinggir jalan, alasan polisi.
Takut menjadi korban pungli berikutnya, kami segera melanjutkan perjalanan. Dibanding jalan-jalan di Flores yang rusak, berbatu dan penuh tikungan, jalan raya di Sumbawa beraspal halus dan lebar. Pak Tua pun menambah kecepatan. Kami melalui kebun-kebun pisang yang meranggas dimakan hama. Melihat saya terkantuk-kantuk, Step menyuruhku tidur di ruang belakang, tepat di belakang tempat duduk sopir. Di sana memang ada ruang untuk berbaring, cukup empuk dan hangat. Tapi sulit bagi saya memejamkan mata.
Sialan, lagi-lagi kami dihadang pungli seusai menyebrangi selat Sumbawa menuju Lombok timur tengah malam. Kali ini oleh petugas jembatan penimbangan selepas dermaga Labuhan. Semua truk pengangkut beban dikenakan UU karantina dan harus membayar Rp 100 per kg beban yang dibawa. Hampir satu jam para sopir dan awak berdebat dengan petugas, karena mereka merasa barang yang dibawa bukan untuk diekspor sehingga tak perlu dikarantina. Meski akhirnya diperbolehkan meneruskan perjalanan kembali, mereka harus mengeluarkan uang damai yang tak sedikit jumlahnya.
Ingat!! Mereka Tak Selalu Negatif
Semula aku ragu menumpang truk. Ingat cerita-cerita seram teman yang melakukan survey truk jalur pantura Jawa. Katanya, sopir truk menjadi pelanggan setia pekerja seks, dan penular aktif penyakit kelamin dan HIV-AIDS. Mereka juga tak tahan melihat perempuan. Tapi, kali ini sungguh berbeda. Mereka amat ramah, senang bercanda, sopan, dan murah hati. Pak Tua misalnya berkali-kali memberi tumpangan kepada perempuan dan anak-anak sepanjang perjalanan menuju Sumbawa.
Aku pun melihat untaian rosario menjuntai di atas kaca setirnya. Katanya, menjadi sopir truk bukan pekerjaan mudah. Berhari-hari duduk di belakang setir, membuat orang cepat bosan dan lelah. Sedikit saja kehilangan konsentrasi, bisa berakibat fatal. Karena itu sopir truk senang memberi tumpangan. Apalagi kalau yang diberi tumpangan senang bercerita.
Ketika kami beristirahat di sebuah rumah makan di Sumbawa Besar, para awak truk mempersilakanku mandi duluan. Dan ketika tiba waktu makan malam, mereka berlomba-lomba menraktir aku makan. Ah.. malu rasanya diperlakukan seperti itu, kan aku juga cuma orang biasa. Namun ada satu hal yang membuat aku makin terkesan, mereka menolak untuk diambil fotonya. Malu, alasannya.
Pak Tua tiba-tiba bertanya mengenai tujuanku. Akhirnya tepat di depan kantor polisi, aku meloncat turun setelah menyelipkan uang rokok ke kantong Pak Tua. Dia hanya tersenyum tipis sambil berpesan agar saya berhat-hati. Lalu truknya menderu dalam kegelapan, meninggalkan saya yang lupa menanyakan nama aslinya. Untung saya mendapat kenang-kenangan sarung Maumere pemberian Steph dan teman-temannya, serta pesan mereka agar tak ragu-ragu mencari konvoi truk mereka jika berkunjung ke Flores lagi.
Sungguh undangan persahabatan yang tulus.
Monday, September 24, 2012
Suka Duka hidup anak Kos
"Ngekos" itu boleh gue bilang asyik tapi bisa juga gak asyik. Kadang bisa senang, tapi kadang juga gak enak. Pokoknya ngekos itu penuh suka dan duka. Apa saja sih suka duka hidup ngekos? Langsung cus baca nyookkk...
Bagi saya (anak kos) maupun bagi mereka yang sudah pernah ngekos, tentu banyak pengalaman berkesan. Walaupun cuma ngekos sebentar (entah kenapa mungkin kerja atau apalah..) setidaknya ada beberapa pengalaman yang menyisakan
kesan dalam benak mereka kan? Hmm... Sekali lagi ternyata ngekos itu susah-susah senang, pokoke penuh
suka duka!
Biar lebih enak, mari kita mulai bicara hal-hal yang enak lebih
dulu. Oke??
Siapa sih yang gak pengen hidup bebas? Jauh dari pengawasan orang tua,
gak pengen diatur ini-itunya, kos lah yang menjadi salah satu jalan untuk
menempuh semuanya.
Benar saja, salah satu yang ditawarkan dari hidup ngekos adalah
kebebasan. Bebas bisa diartikan beraneka ragam. Sebagi contoh bebas bergaul
kapanpun dimanapun. Asal kita bayar uang kos ke ibu kos :), kita mungkin bebas pulang
kapan saja, tak ada jam malam (jam malam berlaku hanya untuk menerima tamu),
kita nongkrong sampai jam berapapun gak ada yang melarang (tapi kosanku gak kaya gini.. maks jam 10 dah dikunci ToT).
Bebas dari kekangan orang tua. Di kos bakal tidak ditemui
pengawasan langsung dari orang tua. Memang sangat manusiawi jika orang tua sangat mengawasi
anak mereka, orang tua hanya berkeinginan agar anaknya menjadi orang yang baik
dan benar, tapi kadang pengawasannya terlalu overprotektif sehingga menyebabkan
si anak terkekang. Di sinilah letak tantangannya, orang tua dituntut untuk
percaya penuh kepada sang anak, sementara sang anak dituntut untuk menjalankan
amanah dan kepercayaan orang tua.
Lagi nih dukanya ngekos.. Ngekos = belajar mandiri. Ini bisa dikatakan enak namun bisa juga gak
enak, kos itu perlu adaptasi terlebih dahulu. Hidup ngekos, merantau ke kota orang,
kita dituntut mandiri (mandi pun sendiri :P), apapun dilakukan sendiri, kita yang awalnya nyuci bisa
dicucikan pembantu di rumah kini kita harus meluangkan waktu untuk mencuci baju. Kita yang biasa makan tinggal ambil di
dapur, kini harus pergi ke warung terdekat (Warung Makan Pak Yatin), bagi perempuan
mungkin sudah terbiasa dengan aktivitas mencuci atau memasak, tapi bagi para
lelaki kaya gue? hmm ... daripada repot memasak mending pergi ke warung saja deh. Kalau masak sendiri pun biasanya serba instant kan?
Mie instant adalah menu utama tentunya, disini gizi yang tidak menjamin. Tak
heran jika maag dan typhus adalah penyakit khas anak kos :(.
Dukanya?? Kalau ibu kos cerewet (maaf ya buk). Dimarahin ibu kos hampir
pernah dialami rata-rata anak kos, masalah terkadang sepele, lupa matikan kran
air kamar mandi lah, merokok, membawa teman kos sampai terlalu malam, atau
telat bayar uang kos.
Kalau sakit gak ada yang ngerawat. Teman satu kos juga tidak
24 jam bisa menemani kita. Beda kalau di rumah, ada ibu yang merawat dan
menjaga kita 24 jam layaknya kita kecil dahulu (aku kangen ibu di rumah T.T).
Ohya, anak kos harus pandai-pandai ngatur uang, hindari gali
lobang-tutup lubang. Jangan sampai menerapakan kehidupan yang Senin makan
Selasa puasa, Rabo ngutang Kamis dibayar. Kita ambil hikmahnya saja, semestinya
dari awal hidup ngekos kita harus pintar mengatur keuangan, karena ngekos
menjadi awal untuk hidup mandiri menuju kehidupan berkeluarga.
Tapi broo.. Jangan terpengaruh dengan kehidupan
bebas sebebas-bebasnya, manage diri dengan baik, tetap ikuti norma dan jalan
lurus yang ada. Bebas bukan berarti mengikuti alur yang tidak sehat, tetap jaga
kepercayaan orang tua, tetap jalani amanah yang ada. Oke??
Sekian.
Subscribe to:
Posts (Atom)