youtube

Monday, May 12, 2014

Jalan-jalan Murah ke Lombok

Hallo, setelah lama aku nggak nulis di blog ini karna gada bahan buat ditulis sekarang aku punya bahan tulisan yang bisa jadi sangat sangat panjang sekali. Ya, itulah perjalananku bersama enam orang temanku menapaki puncak gunung naungan Dewi Anjani, apalagi kalau bukan Gunung Rinjani yang terdapat di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sebelumnya aku kenalin dulu nih, gunung rinjani adalah gunung api tertinggi kedua di Indonesia setelah dikalahkan oleh gunung Kerinci di Pulau Sumatera. Tingginya hanya 3726mdpl. Namun, pesona alam gunung rinjani memiliki keeksotisannya sendiri. Terutama bentang alamnya yang berupa danau vulkanik yang diberi nama segara anak dan pemandian air panasnya Aik Kalak.

Well, perjalanan panjangku ini emang udah aku planin sama temen-temenku sejak setahun lalu, dengan harapan kita bisa nabung dulu agar bisa berangkat (No wacana!!!). Sampai-sampai udah ditulis di sekretariat pecinta alam Palaci “bar UN Rinjani”. Semua bermula dari keinginan kami anggota Palaci untuk menjamah gunung di luar Pulau Jawa.

-Hari H Ujian Nasional tingkat SMA-

Akhirnya UN kita selesai, kita lupain sejenak hasil UN buat refreshing. Pas UN kita dah selesai, kita sering-sering ngumpul buat bahas perjalanan ini. Mulai dari rencana anggaran, logistik makanan, peralatan pendakian, peserta yang ngikut, pendamping, transport, menu makan, cara ngirit, dll semuanya pokoknya dibahas tiap ketemu. Kita selalu nyempetin juga ke basecamp pembimbing kami untuk mengajak pendamping biar bisa naik bareng kita. Tapi tetap saja sulit untuk mencari seorang pendamping yang bisa menemani kita hingga akhirnya kita sempet berpikir untuk memakai jasa porter.

Setelah perundingan berkali-kali, fix akhirnya kita berangkat tanpa pendamping karena tidak ada pembimbing yang bisa mendampingi kami. Namun kita puter akal, kita mutusin buat nyewa porter saja sebagai pengganti pendamping sekaligus mempermudah perjalanan kita.

DOEENG.. hari yang ditunggu pun telah tiba, 29 April 2014 jam 10 pagi. Awalnya kita janjian kumpul di rumah Benu buat bantingan uang dan belanja logistik kebutuhan. Namun karna rumahku jauh, aku nggak dateng nih *rapenting* hhe. Jadi hanya beberapa orang aja yang belanja, mana yang dibelanjain juga ternyata hanya sedikit, sarden beberapa kaleng, sosis, nugget, dan yang aku heran mereka beli abon cuma seplastik kecil mungkin hanya ukuran 100gr, padahal itu buat 7orang. Tapi akhirnya ini abon juga nggak dimakan.

Masih 29 April 2014, jam 19.00 kita janjian ngumpul lagi sekalian fixin barang bawaan, packing dan nginep di rumah Benu agar besok berangkatnya mudah. Sepakat kita hanya bawa barang bawaan berupa pakaian ganti, logistik makanan, air, dan peralatan standar mendaki gunung, dome dll. Kita berangkat tanpa bawa kompor dan alat masak, soalnya kita dah nyewa alat-alat itu dari porternya. Lumayanlah buat ngurangin berat perjalanan ke lombok bisa diganti dengan makanan-makanan kecil.

30 April 2014, pagi-pagi kita dah bangun, lanjut solat, sarapan, mandi dan final checklist. Segera barang kita naikkan ke pickup, dan setelah semuanya beres kita langsung cus ke stasiun jam setengah tujuh pagi biar nggak kesusu pas naik keretanya. Kita langsung check in, foto-foto dan masuk ke kereta. Tuut... tuut... tuttt, jam 7.45 kereta kita Sri Tanjung tujuan Banyuwangi yang kami tumpangi berangkat. Sayangnya tempat duduk kita di kereta nggak bisa nyatu, jadi mencar-mencar mana aku sendirian dan depanku ada ibu-ibu fashionista, sempet-sempetnya nih ibu make cat kuku di kereta dan selfy di setiap stasiun pemberhentian -_- Berjam-jam bokong kita buat duduk, nglangut menikmati perjalanan panjang ditambah panas yang luar biasa menemani perjalanan kami. Kereta kami ini nyampe Stasiun Banyuwangi Baru sekitar jam 20.50 dengan biaya Rp 50.000, - saja. Hehe, buat tips aja nih: bawa novel, bantal, laptop, kartu atau apalah buat ngisi waktu 12jam lebih di dalam kereta yang berjalan, bosen banget nek nggak bawa apa apa. Ngobrol sama sebelah bisa dilakukan kalo pas sebelah kita juga enak diajak ngobrol. Bawa pacar juga boleh juga, biar ndak bosen di kereta :D Makanan usahain bawa dari rumah buat ngirit pengeluaran, cos makanan di dalem kereta agak nguras dompet. Bawa popmie, sama water heater juga bisa soalnya di keretanya ada colokan listriknya.

Jam 20.55 kita nyampe Stasiun Banyuwangi Baru. Langsung deh foto-foto lagi tanpa nunggu lama kita langsung jalan keluar menuju ke Pelabuhan Ketapang yang jaraknya sangat dekat dengan stasiun tersebut. Yaaa, kurang lebih 1kilometer, lumayanlah buat pemanasan sebelum jalan panjang di gunung. Antre tiket kapal di loket, dan kita beruntung cuaca bersahabat dan ada kapal yang sedang bersandar, jadi kita langsung aja ke kapal tanpa nunggu lama dan langsung berangkat. Harga tiketnya lumayan murah nih 6.500 rupiah saja per orang. Tips lagi nih, minum antimo sebelum naik kapal biar nggak mabuk laut sama bawa makanan dari bawah. Beli makanan di kapal bisa bikin dompet langsung bener-bener tinggal isi angin doang.

Jam 23.50 kita dah nyampe di Gilimanuk, perjalanan hanya beberapa menit namun menjadi 2jam soalnya ada pergantian dari WIB ke WITA. Dari sini kita langsung turun menuju ke terminal buat nyari bus yang langsung ke Pelabuhan Padangbai. Lagi-lagi untung, kita ketemu sama rombongan yang mau ke Rinjani juga, jadi kita langsung bergabung menuju satu bus dan bus langsung berangkat. Disini lah yang aku nggak suka, tarif bus nya nggak jelas. Kata orang bisa hanya 30.000 tapi nyatanya kita dapet 55.000 padahal kita semua dah ngotot nego dengan berbagai macam cara dan kata-kata yang keluar dari mulut. Padahal kalo di Jawa harga segitu dah dapet Efisiensi Jogja-Purwokerto, wkwkk. Gapapalah, 55.000 lepas deh, yang penting nyampe Padangbai. Perjalanan ke Padangbai ini kami nikmati dengan tidur di dalam bus. Sebenernya perjalanannya bisa lebih ngirit lagi kalo naik truk ekspedisi, tapi aku nyari di dek bawah nggak ada truk gede.

Jam 5 pagi, kita nyampe di pelabuhan Padangbai. Tanpa basa basi kita langsung cari warung dan beli persediaan bekal buat di kapal. Nggak main-main, perjalanan Padangbai – Lembar adalah 5 jam perjalanan laut. Kalau nggak beli makan bisa kelaparan dan njebolin dompet lagi di kapal. Akhirnya kita nyebrang pukul 6 pagi dan nyampe Lembar sekitar pukul 12 siang. Di kapal ini kita dapet pengalaman apes. Why?? Kita duduk milih tempat di sayap timur kapal, padahal kalau pagi matahari masih berada dari sebelah timur. Jadi, so pasti sepanjang perjalanan laut ini kita bagaikan ikan asin yang sedang dalam penjemuran. Ohya, penyeberangan dari Padangbai meniju Lembar dipatok biaya 40.000 rupiah. Cukup mahal namun sebanding dengan jarak penyeberangannya yang lumayan bikin kepala bergoyang.

Jeng jeng jengggg, jam 12 siang akhirnya untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di pulau Lombok. Segera kami mencari jemputan kami menuju Ampenan, rumah saudar temanku yang akan kita jadikan basecamp selama kita di Lombok. namun ternyata belum kunjung muncul juga. Kami terus berjalan dibawah terik matahari yang sangat menyengat, puanaaaas pwooll, hingga akhirnya kita menemukan Indomerat. Nemu Indomerat disini bagai menemukan surga. Tempat yang adem, dan harga barang yang tidak jauh berbeda dengan di pulau Jawa. Soalnya kalo di Lombok harga-harga barang bisa selisih beberapa rupiah dengan di Pulau Jawa. Jemputan pun datang, dengan segera kita menata barang dan posisi tubuh agar muat masuk dan terangkut semua. Mobil terasa full sekali, diisi 9 orang dengan tujuh tas carier ukuran 60 dengan mobil avanza. Gapapalah, kebersamaan kita sangat terasa disini. Dan bukan cuma kebersamaan, kesemutan dan kepanasan pun juga ikut bersama kami.

Kami pun sampai di Basecamp Pulau Lombok kami di daerah Ampenan, Lombok Barat. Segera kita rehat, jalan cari makan dan beristirahat untuk perjalanan selanjutnya...      #1 Total perjalanan berangkat memakan biaya Rp 156.500, - . Itu diluar biaya makan dan angkot di Lombok. Kalo ditambah angkot di Lombok kurang lebih nambah Rp 30.000, -

Saturday, May 11, 2013

Pendakian Merapi #3


Tanggal 23 – 24 Maret 2013 aku kembali mencoba menaklukan puncak merapi yang terlihat menantang ketika cuaca cerah. Ya, memang aku melihat puncak merapi begitu cerah akhir-akhir ini. Membuat diriku ingin sekali menapakkan kaki di puncak tertingginya. Namun ketika aku mencoba menaklukannya selalu saja gagal sebab cuaca yang mendadak berubah, mungkin karena kedatanganku.

Oke, pendakianku kali ini pun aku lakukan dengan persiapan yang boleh dibilang sangat singkat seperti biasanya *singkat tanpa wacana :D*. Bayangkan saja kami sepakat ndaki jam dua sore dan jam tujuh malam kita langsung berangkat. Berharap dengan persiapan yang singkat ini, dapat menjejakkan kaki di puncak.

Kami berkumpul di sekretariat Palaci seusai shalat ishak. Awalnya yang hendak ikut ada enam orang namun mretheli satu per satu karena berbagai alasan mereka. Akhirnya kami  hanya bertiga, aku, Ibnu dan Najib. Kami langsung cus dari sekre Palaci sekitar pukul tujuh malam dengan menggunakan dua motor, tak lupa kami membawa bendera kebanggaan Palaci dan membuat tulisan-tulisan di kertas untuk difoto di puncak *ngorel :D*.

Sekitar jam sepuluh malam kami tiba di basecamp New Selo, Boyolali. Ternyata sudah tutup hingga memaksaku untuk menggedor pintu belakang pemilik basecamp dan membuat sang pemilik basecamp terkesan jengkel, mungkin karena sudah ngantuk. Segera kami masuk dan mengurus administrasi, membongkar isi tas dan mengambil kompor serta nesting untuk membuat minuman hangat. Memang begitu dingin udara di basecamp pendakian karena letak geografisnya yang sudah berada di ketinggian. Kami memutuskan untuk mulai mendaki jam satu pagi dan kami pun tidur sejenak di basecamp untuk melepas lelah akibat perjalanan panjang.

Jam dua pagi, kami mulai berangkat dari basecamp. Molor dari target awal jam satu karena alarm tidak mampu membangunkan kami. Sebelumnya kami mempacking ulang isi tas untuk meminimalisir besar dan berat tas.

Pendakian dimulai dengan doa bersama di basecamp memohon perlindungan Tuhan agar senantiasa diberi keselamatan dan dapat kembali dengan selamat. Awalnya kami berjalan sangat cepat hingga membuat nafas kami tersengal-sengal *ini sebuah kesalahan*. Hingga kami harus beristirahat di gardu pandang New Selo sekaligus beradaptasi dengan cuaca yang dingin. Kami melanjutkan perjalanan, aku mengambil posisi paling di paling depan untuk membuka dan menunjukkan jalan *wegah ketinggalan :D* Belum ada berjalan seratus meter, senter biru ku pun bermasalah hingga akhirnya aku harus mengganti baterenya. Untung saja aku nemu batere di kantong tas, bayangkan kalo nggak, mungkin akan bergelap-gelapan :D.

Sepanjang pendakian cuaca sangat cerah, tanpa awan mendung yang berarti. Bahkan secara samar-samar nampak Gunung Merbabu menjulang di samping trek pendakian kami. Kami sangat bersyukur dan tidak berhenti berdoa agar cuaca cerah tersebut dapat tetap bertahan hingga kami di puncak. Kami menoleh ke atas, di langit nampak jutaan bintang bertaburan dan sesekali terlihat bintang berpindah atau bintang jatuh.

Dari rencana awal untuk berjalan pelan-pelan ternyata terlupakan. Tanpa sadar kami berjalan sangat cepat hingga akhirnya jam setengah lima pagi kami mulai memasuki daerah jarang vegetasi. Di kejauhan nampak puncak Merapi yang menantang dengan sesekali terdapat kerlipan cahaya senter yang berasal dari pendaki yang sudah berhasil mencapai puncak.

Sekitar jam lima pagi ternyata kami sudah sampai di pasar bubrah. Awalnya ku kira tempat itu adalah gua dimana aku dulu berlindung saat badai, ternyata sudah pasar bubrah yang merupakan daerah datar terakhir sebelum puncak merapi. Segera kami membongkar tas, mengeluarkan tenda dome dan mendirikannya.

Sempat kecewa dengan posisi tenda dome kami, karena secara tidak sadar kami membuat tenda membelakangi bukit pasir raksasa sehingga menutupi sunrise hingga terpaksanya kami harus berjalan balik ke arah bawah untuk dapat menikmati sunrise. Yuhuuuu, kami pun mendapat sunrise. Menakjubkan, berikut dokumentasi yang berhasil diabadikan :D








Tak lupa berdoa berharap keselamatan dan kesuksesan :)



Usai berfoto dan berdoa, jam enam pagi kami segera mulai berjalan menuju puncak. Kali ini trek yang dilalui benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Benar saja, trek menuju puncak adalah pasir dan batuan-batuan labil, naik dua langkah pasti mlorot satu langkah sehingga menghabiskan tenaga. Tidak hanya itu, terkadang batu yang diinjak teman di depan kita pun menggelinding ke bawah sehingga kita harus berpikir agar tidak terkena glundhungan batu yang berbahaya. Tak jarang kami harus berjalan dengan jarak yang sangat jauh dan terkadang sesukanya sendiri membuat jalan :D.

Jam setengah delapan kami tiba di puncak. Rasa lelah seperti luntur begitu saja terkalahkan oleh pemandangan di puncak. Sesekali bau belerang yang sangat menyengat mengganggu pernapasan hingga terkadang membuatku batuk dan terpaksa menggunakan masker. Di puncak, kami bertemu dengan teman pendaki dari SMK Temanggung, Teguh Santoso :D.

Segera kami berfoto di puncak!







Karena sudah semakin siang dan panas, kami segera meluncur turun menuju tenda dome yang kami dirikan untuk menaruh tas. Kami turun dengan teknik merosot karena kalau jalan malah jauh lebih berbahaya. Tidak sampai 30menit kami sudah sampai kembali di pasar bubrah. Sangat berbeda dengan perjalanan naik yang memakan waktu hingga satu setengah jam. Kami segera masak perbekalan, bongkar tenda dan meluncur ke bawah.

Perjalanan turun jauh lebih cepat dari perjalanan naik, sehingga sekitar jam dua belas kami sudah sampai di basecamp dan segera kembali ke sekretariat Palaci di SMA N 8 Yogyakarta.

Keesokan harinya kami mendengar kabar yang tidak enak. Beberapa pendaki merapi tewas karena kedinginan di puncak. Kami mengira kalau pendaki tersebut adalah teman yang kita temui kemarin, ternyata bukan. Syukurlah..

MERAPI à DONE 

Saturday, November 03, 2012

Iklan twitter

Halo.. Halo..
Follow twitter ku ya.
@riko_damasus

monggo klik aja link nya.. :D makasih