youtube

Sunday, August 05, 2018

Internet Reactor Laboratory, Jarak Jauh Bukan Masalah untuk Belajar Reaktor Nuklir

Senin dan Selasa, 30 dan 31 Juli 2018 kami 35 mahasiswa yang berasal dari beberapa Universitas di Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung, dan Surabaya, berkesempatan untuk mengikuti acara Nuclear Reactor School (NRS 2018) yang diadakan oleh Pusat Studi Teknologi Akselerator Badan Tenaga Nuklir Nasional (PSTA-BATAN). NRS 2018 ini diselenggarakan di Gedung 01 dan 04, Kompleks Kawasan Nuklir Yogyakarta. NRS merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh PSTA-BATAN untuk memberikan pengetahuan tentang ilmu reaktor nuklir kepada para mahasiswa. Dengan sasaran peserta yang berbeda-beda setiap tahunnya, di tahun 2018 ini melalui Komunitas Muda Nuklir Nasional (KOMMUN) Wilayah Yogyakarta, saya diundang untuk mengikuti rangkaian acara NRS 2018 ini. 

Dalam NRS 2018 ini, peserta diberikan berbagai pengetahuan tentang reaktor nuklir baik secara teori maupun praktik. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan bagi peserta NRS 2018 karena secara eksklusif dapat memiliki kesempatan mengenal lebih dalam tentang reaktor nuklir dan bagaimana pengoperasiannya. Kunjungan ke fasilitas reaktor, pelatihan operasi reaktor, pengukuran koefisien reaktivitas negatif suhu, kalibrasi batang kendali, dan pengukuran fluks neutron Reaktor Kartini menjadi agenda peserta selama dua hari tersebut. 

Internet Reactor Laboratory (IRL) menjadi hal yang banyak menyita perhatian peserta NRS 2018 ini. Dalam NRS 2018 peserta diberi kesempatan untuk mencoba menggunakan IRL ini. Peserta dibagai menjadi dua kelompok besar dimana satu kelompok berada dalam Ruang Kendali Utama (RKU) Reaktor Kartini dan satu kelompok berada pada ruang kelas yang didesain sebagai kelas IRL. Kemudian pada hari kedua, kedua kelompok saling bertukar posisi hingga semua peserta NRS 2018 dapat merasakan “sensasi” berada dalam RKU dan kelas IRL. Meskipun berbeda ruangan, komunikasi antara operator reaktor yang berada dalam RKU dengan kelas IRL dapat tetap terjalin melalui sistem telekonferens yang disediakan sehingga “sensasi” praktikum reaktor nuklir tetap dirasakan peserta di dalam ruang kelas IRL. Data primer maupun sekunder dari Reaktor Kartini dapat dilihat pada IRL, dan apabila terjadi keterlambatan dalam pencatatan data, IRL Reaktor Kartini telah memiliki fitur untuk mengunduh data operasi reaktor. Konsep pendidikan jarak jauh berbasis Internet of Things (IoT) dan penerapan revolusi industri 4.0 sangat nampak dalam ujicoba IRL ini. 

Tampilan utama situs IRL
Penerapan dari IRL ini dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya pengembangan dan diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Nuklir kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya akademisi yang menekuni bidang fisika inti maupun fisika reaktor. Dengan IRL, pendidikan reaktor nuklir dapat dilakukan di berbagai institusi maupun kampus di Indonesia tanpa mengenal wilayah. Semakin berkurang alasan bagi terhambatnya pendidikan reaktor nulklir di Indonesia yang disebabkan oleh keterbatasan jumlah fasilitas reaktor nuklir. Dengan cara ini, kegiatan diseminasi penerapan Iptek Nuklir penyokong kehidupan yang bersih, murah, dan aman kepada seluruh masyarakat di Indonesia dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif. 

Akses menuju IRL BATAN saat ini dapat diakses melalui : irlkartini.batan.go.id namun memerlukan user dan password yang terbatas diberikan bagi calon praktikan. 

Tampilan data Reaktor Kartini

Thursday, August 02, 2018

Pasar Setan, mitos atau fenomena alam?

Keberadaan pasar setan atau pasar bubrah telah banyak dikenal oleh penduduk sekitar maupun pendaki gunung. Terlepas dari unsur misteri yang beredar tentang keberadaan pasar setan ini maka sebenarnya dapat juga ditelaah secara realistis.

Jalur pendakian gunung biasanya dipilih berupa medan yang mudah dengan jalur yang tidak terlalu curam. Dalam hal seperti ini kadang ada satu jalur yang akan melewati punggung suatu bukit dengan kondisi yang agak datar. Daerah seperti ini biasanya akan dilewati pendaki sekaligus terkadang dipilih untuk tempat peristirahatan sementara sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak. Nah! Daerah punggung bukit inilah yang secara alami biasanya menjadi lokasi pasar setan misterius tersebut. Punggung bukit ini yang sering berupa bentangan menyerupai lapangan yang relatif datar. Dengan demikian lokasi seperti ini cocok untuk dijadikan tempat mendirikan kemah dengan menggunakan perlindungan dari semak-semak atau batu besar supaya terhindar dari angin kencang yang bertiup.

Karakteristik lain yang menjadi ciri pasar setan adalah daerah ini sudah tidak memiliki banyak pepohonan tinggi dan berbatang besar. Pada daerah ini hanya tinggal semak-semak perdu dengan ketinggian kurang dari dua meter. Dengan demikian angin sangat terasa sekali mengenai tubuh manusia yang sedang berada di daerah ini.

Pada lokasi punggung bukit seperti ini hampir selalu dipastikan pada waktu malam merupakan tempat angin bertiup kencang. Angin malam biasanya akan bertiup dari bawah melewati lereng-lereng secara cepat. Pada saat melewati punggung bukit ini akan bertiup dan memberikan fenomena suara yang berisik. Hal seperti inilah yang kemudian membuat sensasi keriuhan yang dianggap sebagai suara menyerupai suasana pasar. Dengan demikian daerah inilah oleh banyak orang dianggap sebagai daerah pasar setan, karena pasar yang sebenarnya tidak terlihat dan hanya suaranya saja yang terdengar.

Di lokasi pasar setan sering dikabarkan memakan korban orang atau pendaki gunung meninggal dunia. Sebenarnya dapat mudah dimengerti karena perjalanan mendaki gunung biasanya akan memerlukan tempat untuk beristirahat sementara. Salah satu pilihan orang untuk beristirahat kemungkinan besar adalah dipilih daerah di sekitar pasar setan ini. Tentu saja dipilih hal ini karena relatif sudah dekat dengan puncak, daerah ini relatif datar sehingga mudah untuk mendirikan tenda atau sekedar berlindung di bebatuan. Pada saat beristirahat seperti inilah sering terjadi kasus orang kedinginan dan menderita hipotermia misal karena cuaca di atas yang relatif ekstrim seperti turun hujan besar dan kabut gelap. Dengan demikian dapat dimengerti jika banyak korban meninggal dunia yang berlokasi di daerah pasar setan.

Demikian juga kalau ada pendakian yang memaksa kondisi darurat ada yang jatuh kecelakaan atau yang lainnya, maka tempat yang dipilih untuk menunggu sementara adalah di pilih di daerah sekitar pasar setan ini. Dengan berada di tempat ini maka penyelamat relatif dapat mudah mencari dan menemukan korban sehingga tindakan evakuasi dapat segera ditangani.

Orang melakukan pendakian gunung sangat sering melakukannya pada malam hari dalam rangka tujuan melihat matahari terbit dari puncak gunung. Selain itu jika pendakian dilakukan malam hari maka udara juga tidak terlalu panas oleh terik matahari. Perjalanan seperti ini dapat diatur oleh pendaki yang berpengalaman untuk dapat mencapai puncak sebelum matahari terbit. Namun kadang ada juga pendaki yang naik sore hari sehingga dapat sampai puncak sebelum pagi untuk beristirahat di tengah perjalanan. Tempat perjalanan seperti ini biasanya juga dipilih daerah sekitar pasar setan.

Untuk pendakian yang dilakukan pada siang hari. Tentu saja akan memerlukan waktu untuk menginap di atas gunung. Biasanya mereka akan membawa peralatan tenda untuk camping cukup lengkap. Hal ini karena mereka perlu meluangkan waktu menginap semalaman sebelum melanjutkan pendakian ke puncak pada pagi harinya. Lokasi daerah penginapan yang dipilih pun di daerah sekitar pasar setan.

Pasar Bubrah Gunung Merapi

Jadi memang wajarlah kalau keberadaan pasar setan ini menjadi terkenal karena hampir banyak orang dan pendaki gunung selalu melewati daerah ini khususnya saat perjalanan pendakian malam hari.

Pasar setan diduga bukan satu fenomena yang benar-benar ada. Fenomena ini muncul karena kondisi daerah gunung yang mungkin menyebabkan terjadinya suasana yang terasa menyerupai suasana pasar sehari-hari. Meskipun tidak ada bukti fisik kuat yang mendukung keberadaan pasar setan ini, hal ini dapat kita gunakan untuk selalu mengingatkan para pendaki gunung agar senantiasa menjaga perilaku dan kehati-hatian selama perjalanan pendakian, baik saat sedang mendaki ataupun dalam perjalanan pulang.

Review Kampas Rem Non Ori di Honda CB150R 2013 (ASPIRA)

Rem merupakan organ vital bagi sebuah kendaraan bermotor. Rem terdiri dari sebuah part yang memegang peranan kunci dalam menghentikan laju kendaraan anda, yaitu adalah kampas rem. Tanpa ada kampas rem, rem jelas tidak akan berfungsi. Banyak kampas rem yang beredar di pasaran baik itu Genuine Parts maupun merk merk lainnya seperti Aspira, Indopart, Federal, dan sebagainya. Perbedaan utama yang paling ketara dari kedua produk tersebut adalah harga. Produk-produk berlabel Genuine Parts biasanya memiliki harga yang lebih tinggi dari produk-produk lain, hal ini karena kualitasnya yang terjamin selama dilakukan pembelian di bengkel resmi.

Kampas Rem Honda CB150R (Federal)

Kampas rem Non Ori bukan berarti memiliki kualitas yang buruk, pabrikan kampas rem baik itu Aspira, Indopart, Federal, dll tentunya telah memiliki standar kualitasnya masing-masing. Kualitas tersebut bisa saja lebih baik dari part Ori atau malah lebih buruk. Tapi, sudah tentu tidak akan kita jumpai produk-produk tersebut di pasaran apabila tidak ada yang membelinya, sehingga bias kita ambil kesimpulan kalau produk-produk tersebut pantas kita coba.

Kala itu digunakan kampas rem dari pabrikan Aspira, dimana satu set ditebus dengan harga 50ribu rupiah di bengkel di dekat rumah. Lumayan murah daripada Part Ori yang harganya mencapai 55ribu rupiah untuk satu bagian depan atau belakang saja. Penggantian waktu itu dilakukan pada saat odometer menunjukkan angka 60ribuan kilometer. Penggantian dilakukan sangat cepat karena mudah mengganti kampas rem CB150R, hanya perlu melepas satu baut. Selesai diganti, motor langsung diuji coba, dan seperti biasa saat baru saja diganti rem tidak akan terasa pakem karena kampas yang masih perlu beradaptasi dengan permukaan cakram yang sudah tidak mulus lagi. Selama penggunaan awal, kampas Aspira tersebut memiliki kualitas cengkeraman yang pakem, untuk melakukan pengereman mendadak, kampas rem dapat bekerja sesuai keinginan pengendara tanpa perlu memberikan pijakan yang lebay. Demikian juga saat kondisi hujan, pengereman juga tetap dapat dilakukan secara optimal tanpa ada penurunan kepakeman yang signifikan. 

Penggunaan kampas rem Aspira untuk jarak jauh juga tidak mengalami masalah, hanya saja untuk jalan turunan yang panjang harus dibarengi dengan engine brake (hal ini juga berlaku untuk semua kampas rem) karena pernah ketika itu turun dari kawasan Dieng berboncengan, penggunaan rem dipijak terus menerus hingga rider merasa kepakeman rem berkurang drastis. Hingga akhirnya ada pengendara lain yang meminta rider untuk berhenti karena KAMPAS REM BERASAP, dan benar saja asap dan bau mengepul dari kampas rem belakang. Pada kasus seperti ini, jangan panik, segera menepi dan dinginkan rem anda. Jangan sekali-kali menyiram dengan air karena cakram bias bengkok akibat penyusutan yang tidak merata. Kalo cakram bengkok, bisa-bisa anda harus tinggal disitu karena rem yang sudah rusak sementara jalan turunan masih panjang. Setelah dingin kampas rem tetap dapat berfungsi normal dan tetap jangan melupakan engine brake.

Pemakaian rider terhadap kampas rem Aspira dapat bertahan hingga 14ribuan kilometer dengan pemakaian ekstrim melalui Pegunungan Dieng, Magelang – Solo via Selo, berkali-kali touring ke Tawangmangu, dsb, kampas rem yang sudah semakin keras. Hal ini ditandai dengan bunyi berdecit saat dilakukan pengereman. Mencegah kerusakan berlanjut pada cakram, rider memutuskan untuk mengganti kampas rem tersebut dengan mencoba merk lainnya. Pada penggunaan harian, kampas rem Aspira sangat mencukupi, dengan harga yang murah, didapatkan kualitas yang sangat mencukupi. Namun untuk pemakaian ekstrim, penggunaan engine brake harus tetap digunakan untuk mencegah kampas rem yang kepanasan dan blong.

Demikian review 14ribuan kilometer bersama kampas rem Aspira pada Honda CB150R, penilaian merupakan opini penulis berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama penggunaan part. Pengalaman anda mungkin bisa berbeda karena setiap orang memiliki karakteristik ridingnya masing-masing. Namun penulis hanya ingin memberikan gambaran pada pembaca. Terimakasih.

Saturday, August 16, 2014

Pentingnya PPSMB UGM 2014



Sebelumnya, aku mau perkenalin diriku dulu yaa.. Namaku Damasus Riko Prijono biasa dipanggil Sus atau Riko hhehehe aku dari jurusan teknik fisika, dengan prodi teknik nuklir. Kenapa aku milih teknik nuklir? Penjelasannya lain kali aja di tulisan selanjutnya~

Di masa peralihan dari siswa menjadi mahasiswa tentunya terdapat perbedaan dalam menjalani kegiatan akademiknya. Dikala masih menjabat status sebagai siswa, kegiatan akademik masih sangat tergantung dari kebijakan sekolah. Tetapi ketika telah menjadi seorang mahasiswa, ia harus bisa menentukan kebijakan yang akan ia ambil untuk menjalani kegiatan kampus.

Nah, untuk mempersiapkan transisi dari siswa ke mahasiswa tersebut, Universitas Gadjah Mada tiap tahun akademik baru mengadakan kegiatan yang dinamakan PPSMB. Apa itu PPSMB dan apa pentingnya kegiatan tersebut?

PPSMB adalah singkatan dari Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru. Dan seperti yang dijelaskan dari kepanjangannya, kegiatan ini merupakan kegiatan melatih mahasiswa baru dalam menjalani kehidupan kampus Universitas Gadjah Mada kelak agar menjadi seorang yang sukses. Berlangsung selama tujuh hari yang terdiri dari 2hari PPSMB Universitas, 2hari PPSMB Fakultas 2hari pelatihan softskills, dan 1hari penutupan.

Kegiatan PPSMB ini sangat penting, sebab kegiatan semacam ini mampu memberikan bekal bagi mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan kampus yang berbeda dengan kegiatan di tingkat sekolah sebelumnya sehingga mahasiswa baru tidak kaget ketika memasuki kegiatan kuliah. Kegiatan ini juga meningkatkan kedisiplinan mahasiswa, mahasiswa dilatih untuk semakin menghargai waktu dan menaati aturan. Bentakan dari senior sebenarnya merupakan latihan bagi kita untuk lebih disiplin dan cekatan dalam mengerjakan suatu tugas.

Keuntungan lain dari pentingnya kegiatan PPSMB kita bisa dapet teman banyak, kenalan dengan mahasiswa baru dari seantero nusantara.


Monday, May 12, 2014

Pendakian Gunung Rinjani 3726mdpl

Puncak Gunung Rinjani 2014

Setelah rehat dan beristirahat sejenak, kita berunding lagi buat nyari transport ke Sembalu Lawang basecamp pendakian. Awalnya kita mau berangkat keesokan harinya, namun karena dikhawatirkan terlalu kesusu maka kita berangkat malem pada hari itu juga. Kita langsung nyari sewaan mobil buat ke Sembalun Lawang soalnya kalo naik avanza takut nggak kuat dan umpek-umpekan karena banyaknya muatan kita. Dan dapetlah satu mobil innova buat ke basecamp. Nego-nego akhirnya kita dapet harga Rp 490.000, - . Harga yang sangat murah karena perjalanan menuju Sembalun sangat jauh dan melalui medan yang sangat ekstrim yaitu tengah hutan taman nasional Gunung Rinjani. Bantingan Rp 70.000, - per orang jadi keitung lebih murah lagi.

30 April 2014 jam 6 sore. Kita langsung packing barang-barang bawaan, nitip barang yang nggak perlu dibawa, ngubungi porter dan nunggu jemputan mobil sewaan. Jam 7 pun kita sudah dijemput dan langsung nata carier dan barang bawaan ke dalam mobil. Innova buat tujuh orang lumayanlah nggak terlalu kesemutan, heheh.. Okey kita pun mulai jalan, kata pak sopirnya sih perjalanan bisa makan waktu tiga jam lebih jadi kalo perhitungan kasar kita baru nyampe basecamp Sembalun kurang lebih jam 10malam. Sepanjang perjalanan, yang kita temui banyak truk ekspedisi Nusa Tenggaraan. Beberapa hal yang aku suka dari truk ekspedisi yaitu sopan santun dan tata krama sopir mereka di jalan raya nggak kayak mobil pribadi. Mereka selalu memberikan kode-kode pada pengendara lain di jalan raya. Bagi yang nggak paham sih mungkin biasa aja, tapi bagiku hal itu membuatku kagum pada mereka =))

Tepat dengan perhitungan semula, kita lewat jalan ditengah hutan yang mencekam. Naik turun berkelok-kelok, dan sempat kami ketakutan karna mobil yang kita pake sempat mati mesin ketika melalui tanjakan curam, dan kata bapaknya tuh tanjakan banyak mobil yang nggak kuat, jam 10 kita nyampe rumah Bapak Suketi, porter yang akan menemani perjalanan kita. Kita bobok disana buat ngrecharge energi dan persiapan pendakian.

1 Mei 2014 jam 6 pagi, kita semua bangun minum kopi dan membersihkan diri di sungai. Dingiiiin yang luar biasa sangat terasa karna kita nggak pake jaket, hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Gemeteran semua badan melawan dinginnya udara pagi. Tapi pas lihat begitu indah puncak Gunung Rinjani seolah menunggu untuk kita daki, gemeteran pun hilang :D.

Okey, abis itu kita persiapan, packing, sarapan dan belanja barang-barang yang kurang pun segera kita lakukan. Jam 9 kita mulai jalan menuju ke kantor pendataan pendaki. Beaya masuk pendakian Rp 5.000, - per orang per hari, jadi kalo diitung per orang kita abis Rp 15.000, - . Untuk mempersingkat waktu, kita mutusin buat naik pickup dan mulai ndaki dari Balaknao. Perjalanan mendaki lewat jalur ini lebih singkat 2jam daripada melalui jalur Sembalun Lawang namun harus naik pickup dulu buat nyampe jalur itu. Keluar duit lagi nih buat pickup, tapi gapapalah Rp 10.000, - per orang.

Nyampe di gerbang menuju jalur Balaknao, kita mampir warung dulu. Make sunblock, beli rokok dll lalu langsung cus. Perjalanan dari gerbang nyampe ke pos 1 sih katanya dua jam perjalanan dengan medan yang agak datar namun panas. Dan bener aja nih, datar meskipun beberapa naik tapi puanasnya nggak ketulungan. Mungkin gara-gara hutan disini modelnya hanya berupa padang rumput luas tanpa pepohonan (savana) jadi gada tempat buat berlindung dari terik matahari. Kita terus jalaaaan dengan sekali sekali istirahat di pinggir jalur. Sepanjang kita beristirahat kita pasti selalu diselip sama porter nih. Gileee, barang bawaan mereka berat banget dan cuma pake semacam galah yang ditaruh di pundak mereka tapi mereka jalan cepet buanget. Salut deh sama bapak bapak porter ini =)) Sepanjang perjalanan menuju pos 1 ini kita juga bisa nemuin banyak sapi (atau kebo ya?) milik warga yang diangon di lereng gunung. Katanya sih tuh ternak sebenarnya ada yang njagain, tapi nggak liat. Ohya pas tuh sapi makan rumput, suaranya keren coy kayak angklung. Dan tak liatin ternyata suaranya dari lonceng yang ada di lehernya :D Saran aja nih, ati-ati ya kalo lewat sepanjang jalan ini. Banyak ranjau darat yang siap menyerang kalo kita salah injak. Emang nggak sakit sih nginjek ni ranjau, tapi baunya lumayan ngeganggu kalo kita sampe nginjek ni ranjau. Ya, apalagi kalo bukan kotoran ternak yang tercecer cecer di jalan lah ranjaunya :D

Well, akhirnya emang bener kata mereka-mereka. Kita nyampe di pos 1 sekitar jam 11.20 (menurut timer jalan è Gatra). Pos 1 ini kita langsung lepas carier rehat sama minum sebelum melanjutin perjalanan yang kayaknya bakal tambah panas cos masih nglewatin savana yang luaaas banget. Dari pos 1 ini kita sebenernya dah bisa liat puncaknya rinjani, tapi pas aku nyampe disini pas berkabut puncaknya jadi nggak tahu dimana puncaknya.

Jam 11.30 kita lanjut jalan lagi lewatin savana lagi. Dengan trek yang masih agak landai tapi tipenya hampir sama dengan basecamp-pos 1. Beberapa menit setelah kita ninggalin pos 1, salah satu anggota kami mendadak kram di kakinya. Terpaksalah kita berenti sejenak buat ngobatin. Dan untung aja pas temenku ini kram, ada pendaki dari Malay yang sukarela mbantu ngobatin pake apa tuh nggak tau namanya yang jelas bikin kramnya cepet banget enakkan kata temenku.. dah, lanjut jalan lagii. Ohya, setelah melewati pos 1 ini aku bersyukur banget soalnya ada kabut. Emang sih kalo ada kabut jadi sering ujan dan bawaannya khawatir kalo tiba-tiba badai, tapi dengan kabut ini terik matahari jadi kealang jadi nggak begitu panas. Ada hikmahnya pokoknya sepanjang perjalanan ini. Nggak bisa mbayangin gimana panasnya kalo kita jalan pas nggak ada kabut, pasti kita bakal tambah lama jalannya dan butuh air banyak. Hehe..

Jalan-jalan-jalan terus jalan. Jam 12.15 kita dah nyampe pos 2. Agak cepet nih ternyata kita jalannya, mungkin karna nggak panas. Sampe di pos 2, Tengengan namanya ini kita langsung foto-foto terus istirahat. Kita bakal ketemu banyak pendaki asing di pos ini, kemarin sih malah hampir seratus persen orang asing selain porter -_- Di pos ini kebanyakan dari mereka mulai makan siang. Porter masakin masakan dan mereka tinggal nunggu jadi *enak banget*. Dan menu makanan mereka pun enak-enak semua, ada ayam ada buah nanas sama pisang. Bikin iri kalo dibandingin sama makanan kita, hahaha tapi gapapa, kan kita masih style adventure sedangkan mereka dah style kantong tebal, jadi naik gunung pun harus kayak bawa hotel kemana-mana.

12.35 kita lanjut ninggalin pos 2 menuju pos 3. Untung nih masih ada kabut, jadi tetep nggak panas. Di trek menuju pos 3 ini mulai sering turun ujan sekali sekali. Tapi nggak deres dan cuma bentar jadi bikin galau mau pake mantol atau nggak. Mungkin kalo pake payung lebih gampang, wkwkw. Jalannya masih sama kayak trek-trek sebelumnya. Agak datar dan padang rumput luas.

Bruuuuusss... Tiba-tiba ujan pun jadi deres banget. Untung aja depan kita udah pos 3 jadi kita langsung neduh di bangunan pos 3 meskipun ya Cuma di emperannya doang soalnya bangunan utamanya dah dipake pendaki lain yang lagi-lagi orang asing. Jam 2 siang kita nyampe di pos 3 inilah dan rencananya mau makan disini tapi kita nggak tahu porter kita posisinya dimana. Yaudah jalan lagi deh naik dan tiba-tiba kita ketemu porter kita lagi di bangunan di atasnya. Yaudah deh langsung aja bapak porter tu masak mi rebus buat ngangetin badan sekaligus ngenyangin perut. Kita nunggu makanan kita matang sekalian sholat dan istirahat sambil liatin pemandangan monyet monyet. Emang disini mulai ada banyak monyet yang suka makan makanan sisa dari para pendaki, tapi untung aja tuh monyet nggak ganggu kita jadi kita santai aja. Temenku ada yang diketawain monyet juga :D

Jam 3 sore, setelah packing barang kita lanjutin jalan lagi ke Plawangan yang merupakan destinasi terakhir kami sebelum muncak sekalian tempat buat ngecamp kami. Di pos 3 ini kita ketemu sama mbak Medina Kamil, tapi Cuma bentar soalnya dia turun sedangkan kita naik, hhe beda sama yang di tipi-tipi kalo diliat :D okey, kita pun mulai meninggalkan pos 3 sekitar jam 15.10. Kita bersama-sama nglewatin tujuh bukit penyesalan yang merupakan trek paling menanjak di rinjani selain trek puncak. Hueeeh, kringet ngucur terus padahal nggak terlalu panas soalnya masih berkabut. Berkali kali kami berenti meneguk air dan melihat ke arah belakang menikmati pemandangan. Untung aja di tujuh bukit penyesalan ini nggak kayak tanjakan cinta di semeru, jadi kalo nengok ke belakang nggakapa apa..

Harapan dapet sunset di Plawangan pun pupus sudah untuk hari itu, kita baru nyampe Plawangan jam 6 sore. Yang keliatan tinggal langit warna oren dan bulan yang mulai bersinar. Kita telat buat nikmatin sunset, tapi aku masih bersyukur bisa smpe Plawangan dengan selamat. Di Plawangan ini kita tercecer, bagaikan anak yang keilangan induknya. Porter kita jauh di belakang, padahal tenda dan peralatan penting kita dibawa Pak porter. Yaudah deh kita cuma bisa nungguin aja smpai pak porter datang padahal anginnya banter dan dinginnya bukan main. Pengen langsung masuk tenda tapi belum datang tenda kita. Pas dah nyampe langsung deh kita bangun tenda kita. Pasang frame, ndiriin tenda, pasang pasak daaaaan langsung masuk ke tenda sementara Pak Suketi (porter kita) masak makanan buat makan malam.

Kita pun tertidur untuk mempersiapkan tenaga untuk summit attack besok pagi. Doeng doeng.. Apesnya kita bangun kesiangan, target awal mulai jalan jam 2 pagi ini malah kita baru bangun jam setengah 4 pagi. Yaudah deh, kita langsung buru-buru packing barang ke tas kecil dan langsung berangkat. Nampak di atas sana rombongan pendaki lain dah naik ke puncak. Senter mereka nampak kayak lampu natal yang jejer jejer banyak banget.

Foto kami dan segara anak

Efek dari buru buru nih, kita belum makan apa apa dan usut punya usut ternyata kita hanya bawa 600ml air, lemonai, montes dan beberapa makanan kecil padahal untuk 7 orang. Yaudahlah, kita tetep aja lanjut jalan terus dan belum ada setengah jalan minuman kita dah abis. Akhirnya kita putuskanlah untuk nyoba minta belas kasihan dan kepedulian dari pendaki lain yang hendak turun. Kita minta sedikit air mereka dan ternyata kita dikasih beberapa botol dari beberapa orang pendaki yang turun. Kita pun nggak kekurangan air. Hehehe mental ngemis :D nggak Cuma minuman yang kita ngemis, makanan pun juga. Kita ngobrol dengan pendaki lain yang sedang turun dan curhat kalo kita tadi kesiangan jadi belum sarapan, dan alhasil kita pun dapet beberapa makanan. Terimakasih sobat pendaki, tanpa bantuan kalian mungkin kita dah mati =))

Jalan terus nglewatin trek pasing yang sangat menanjak. Tanjakan terakhir yang merupakan trek pasing miring. Setiap 6 langkah aku selalu berenti untuk mengambil nafas. Dan Puji Tuhan, akhirnya setelah perjuangan panjang, doa usaha dan bantuan dari semua pihak, sekitar jam 11 siang kita pendaki dari SMAN 8 Yogyakarta berhasil menginjakkan kaki kami di Puncak Tertinggi Gunung Rinjani 3726mdpl. Rasa lelah yang terkumpul di badan seolah terbang begitu saja begitu nyampe di puncak, berganti dengan rasa syukur dan takjub akan pemandangan sekitar puncak gunung. Sepanjang mata memandang nampak hamparan pesisir pulau Lombok. Dan jika kita berputar 360 derajat kita akan melihat seluruh batas batas laut Pulau Lombok. Puji Tuhan.. Segeralah kita foto-foto dengan berbagai pose. Seolah olah rasa malu narsis hilang begitu aja pas dipuncak ini. Hahaha PUNCAAAAAK 3726mdpl!

Okey langsung aja ya, kita turun sekitar jam 12an siang.. Lari nih soalnya keburu laper, dan jam 3 pun kita dah nyampe ke camp kita. Kalo dibandingin sekitar 7 berbanding 2 jam -_- Kita pun makan dan bersiap pindah camp ke Segara Anak, yeayyy!

Jalan-jalan Murah ke Lombok

Hallo, setelah lama aku nggak nulis di blog ini karna gada bahan buat ditulis sekarang aku punya bahan tulisan yang bisa jadi sangat sangat panjang sekali. Ya, itulah perjalananku bersama enam orang temanku menapaki puncak gunung naungan Dewi Anjani, apalagi kalau bukan Gunung Rinjani yang terdapat di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sebelumnya aku kenalin dulu nih, gunung rinjani adalah gunung api tertinggi kedua di Indonesia setelah dikalahkan oleh gunung Kerinci di Pulau Sumatera. Tingginya hanya 3726mdpl. Namun, pesona alam gunung rinjani memiliki keeksotisannya sendiri. Terutama bentang alamnya yang berupa danau vulkanik yang diberi nama segara anak dan pemandian air panasnya Aik Kalak.

Well, perjalanan panjangku ini emang udah aku planin sama temen-temenku sejak setahun lalu, dengan harapan kita bisa nabung dulu agar bisa berangkat (No wacana!!!). Sampai-sampai udah ditulis di sekretariat pecinta alam Palaci “bar UN Rinjani”. Semua bermula dari keinginan kami anggota Palaci untuk menjamah gunung di luar Pulau Jawa.

-Hari H Ujian Nasional tingkat SMA-

Akhirnya UN kita selesai, kita lupain sejenak hasil UN buat refreshing. Pas UN kita dah selesai, kita sering-sering ngumpul buat bahas perjalanan ini. Mulai dari rencana anggaran, logistik makanan, peralatan pendakian, peserta yang ngikut, pendamping, transport, menu makan, cara ngirit, dll semuanya pokoknya dibahas tiap ketemu. Kita selalu nyempetin juga ke basecamp pembimbing kami untuk mengajak pendamping biar bisa naik bareng kita. Tapi tetap saja sulit untuk mencari seorang pendamping yang bisa menemani kita hingga akhirnya kita sempet berpikir untuk memakai jasa porter.

Setelah perundingan berkali-kali, fix akhirnya kita berangkat tanpa pendamping karena tidak ada pembimbing yang bisa mendampingi kami. Namun kita puter akal, kita mutusin buat nyewa porter saja sebagai pengganti pendamping sekaligus mempermudah perjalanan kita.

DOEENG.. hari yang ditunggu pun telah tiba, 29 April 2014 jam 10 pagi. Awalnya kita janjian kumpul di rumah Benu buat bantingan uang dan belanja logistik kebutuhan. Namun karna rumahku jauh, aku nggak dateng nih *rapenting* hhe. Jadi hanya beberapa orang aja yang belanja, mana yang dibelanjain juga ternyata hanya sedikit, sarden beberapa kaleng, sosis, nugget, dan yang aku heran mereka beli abon cuma seplastik kecil mungkin hanya ukuran 100gr, padahal itu buat 7orang. Tapi akhirnya ini abon juga nggak dimakan.

Masih 29 April 2014, jam 19.00 kita janjian ngumpul lagi sekalian fixin barang bawaan, packing dan nginep di rumah Benu agar besok berangkatnya mudah. Sepakat kita hanya bawa barang bawaan berupa pakaian ganti, logistik makanan, air, dan peralatan standar mendaki gunung, dome dll. Kita berangkat tanpa bawa kompor dan alat masak, soalnya kita dah nyewa alat-alat itu dari porternya. Lumayanlah buat ngurangin berat perjalanan ke lombok bisa diganti dengan makanan-makanan kecil.

30 April 2014, pagi-pagi kita dah bangun, lanjut solat, sarapan, mandi dan final checklist. Segera barang kita naikkan ke pickup, dan setelah semuanya beres kita langsung cus ke stasiun jam setengah tujuh pagi biar nggak kesusu pas naik keretanya. Kita langsung check in, foto-foto dan masuk ke kereta. Tuut... tuut... tuttt, jam 7.45 kereta kita Sri Tanjung tujuan Banyuwangi yang kami tumpangi berangkat. Sayangnya tempat duduk kita di kereta nggak bisa nyatu, jadi mencar-mencar mana aku sendirian dan depanku ada ibu-ibu fashionista, sempet-sempetnya nih ibu make cat kuku di kereta dan selfy di setiap stasiun pemberhentian -_- Berjam-jam bokong kita buat duduk, nglangut menikmati perjalanan panjang ditambah panas yang luar biasa menemani perjalanan kami. Kereta kami ini nyampe Stasiun Banyuwangi Baru sekitar jam 20.50 dengan biaya Rp 50.000, - saja. Hehe, buat tips aja nih: bawa novel, bantal, laptop, kartu atau apalah buat ngisi waktu 12jam lebih di dalam kereta yang berjalan, bosen banget nek nggak bawa apa apa. Ngobrol sama sebelah bisa dilakukan kalo pas sebelah kita juga enak diajak ngobrol. Bawa pacar juga boleh juga, biar ndak bosen di kereta :D Makanan usahain bawa dari rumah buat ngirit pengeluaran, cos makanan di dalem kereta agak nguras dompet. Bawa popmie, sama water heater juga bisa soalnya di keretanya ada colokan listriknya.

Jam 20.55 kita nyampe Stasiun Banyuwangi Baru. Langsung deh foto-foto lagi tanpa nunggu lama kita langsung jalan keluar menuju ke Pelabuhan Ketapang yang jaraknya sangat dekat dengan stasiun tersebut. Yaaa, kurang lebih 1kilometer, lumayanlah buat pemanasan sebelum jalan panjang di gunung. Antre tiket kapal di loket, dan kita beruntung cuaca bersahabat dan ada kapal yang sedang bersandar, jadi kita langsung aja ke kapal tanpa nunggu lama dan langsung berangkat. Harga tiketnya lumayan murah nih 6.500 rupiah saja per orang. Tips lagi nih, minum antimo sebelum naik kapal biar nggak mabuk laut sama bawa makanan dari bawah. Beli makanan di kapal bisa bikin dompet langsung bener-bener tinggal isi angin doang.

Jam 23.50 kita dah nyampe di Gilimanuk, perjalanan hanya beberapa menit namun menjadi 2jam soalnya ada pergantian dari WIB ke WITA. Dari sini kita langsung turun menuju ke terminal buat nyari bus yang langsung ke Pelabuhan Padangbai. Lagi-lagi untung, kita ketemu sama rombongan yang mau ke Rinjani juga, jadi kita langsung bergabung menuju satu bus dan bus langsung berangkat. Disini lah yang aku nggak suka, tarif bus nya nggak jelas. Kata orang bisa hanya 30.000 tapi nyatanya kita dapet 55.000 padahal kita semua dah ngotot nego dengan berbagai macam cara dan kata-kata yang keluar dari mulut. Padahal kalo di Jawa harga segitu dah dapet Efisiensi Jogja-Purwokerto, wkwkk. Gapapalah, 55.000 lepas deh, yang penting nyampe Padangbai. Perjalanan ke Padangbai ini kami nikmati dengan tidur di dalam bus. Sebenernya perjalanannya bisa lebih ngirit lagi kalo naik truk ekspedisi, tapi aku nyari di dek bawah nggak ada truk gede.

Jam 5 pagi, kita nyampe di pelabuhan Padangbai. Tanpa basa basi kita langsung cari warung dan beli persediaan bekal buat di kapal. Nggak main-main, perjalanan Padangbai – Lembar adalah 5 jam perjalanan laut. Kalau nggak beli makan bisa kelaparan dan njebolin dompet lagi di kapal. Akhirnya kita nyebrang pukul 6 pagi dan nyampe Lembar sekitar pukul 12 siang. Di kapal ini kita dapet pengalaman apes. Why?? Kita duduk milih tempat di sayap timur kapal, padahal kalau pagi matahari masih berada dari sebelah timur. Jadi, so pasti sepanjang perjalanan laut ini kita bagaikan ikan asin yang sedang dalam penjemuran. Ohya, penyeberangan dari Padangbai meniju Lembar dipatok biaya 40.000 rupiah. Cukup mahal namun sebanding dengan jarak penyeberangannya yang lumayan bikin kepala bergoyang.

Jeng jeng jengggg, jam 12 siang akhirnya untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di pulau Lombok. Segera kami mencari jemputan kami menuju Ampenan, rumah saudar temanku yang akan kita jadikan basecamp selama kita di Lombok. namun ternyata belum kunjung muncul juga. Kami terus berjalan dibawah terik matahari yang sangat menyengat, puanaaaas pwooll, hingga akhirnya kita menemukan Indomerat. Nemu Indomerat disini bagai menemukan surga. Tempat yang adem, dan harga barang yang tidak jauh berbeda dengan di pulau Jawa. Soalnya kalo di Lombok harga-harga barang bisa selisih beberapa rupiah dengan di Pulau Jawa. Jemputan pun datang, dengan segera kita menata barang dan posisi tubuh agar muat masuk dan terangkut semua. Mobil terasa full sekali, diisi 9 orang dengan tujuh tas carier ukuran 60 dengan mobil avanza. Gapapalah, kebersamaan kita sangat terasa disini. Dan bukan cuma kebersamaan, kesemutan dan kepanasan pun juga ikut bersama kami.

Kami pun sampai di Basecamp Pulau Lombok kami di daerah Ampenan, Lombok Barat. Segera kita rehat, jalan cari makan dan beristirahat untuk perjalanan selanjutnya...      #1 Total perjalanan berangkat memakan biaya Rp 156.500, - . Itu diluar biaya makan dan angkot di Lombok. Kalo ditambah angkot di Lombok kurang lebih nambah Rp 30.000, -

Saturday, May 11, 2013

Pendakian Merapi #3


Tanggal 23 – 24 Maret 2013 aku kembali mencoba menaklukan puncak merapi yang terlihat menantang ketika cuaca cerah. Ya, memang aku melihat puncak merapi begitu cerah akhir-akhir ini. Membuat diriku ingin sekali menapakkan kaki di puncak tertingginya. Namun ketika aku mencoba menaklukannya selalu saja gagal sebab cuaca yang mendadak berubah, mungkin karena kedatanganku.

Oke, pendakianku kali ini pun aku lakukan dengan persiapan yang boleh dibilang sangat singkat seperti biasanya *singkat tanpa wacana :D*. Bayangkan saja kami sepakat ndaki jam dua sore dan jam tujuh malam kita langsung berangkat. Berharap dengan persiapan yang singkat ini, dapat menjejakkan kaki di puncak.

Kami berkumpul di sekretariat Palaci seusai shalat ishak. Awalnya yang hendak ikut ada enam orang namun mretheli satu per satu karena berbagai alasan mereka. Akhirnya kami  hanya bertiga, aku, Ibnu dan Najib. Kami langsung cus dari sekre Palaci sekitar pukul tujuh malam dengan menggunakan dua motor, tak lupa kami membawa bendera kebanggaan Palaci dan membuat tulisan-tulisan di kertas untuk difoto di puncak *ngorel :D*.

Sekitar jam sepuluh malam kami tiba di basecamp New Selo, Boyolali. Ternyata sudah tutup hingga memaksaku untuk menggedor pintu belakang pemilik basecamp dan membuat sang pemilik basecamp terkesan jengkel, mungkin karena sudah ngantuk. Segera kami masuk dan mengurus administrasi, membongkar isi tas dan mengambil kompor serta nesting untuk membuat minuman hangat. Memang begitu dingin udara di basecamp pendakian karena letak geografisnya yang sudah berada di ketinggian. Kami memutuskan untuk mulai mendaki jam satu pagi dan kami pun tidur sejenak di basecamp untuk melepas lelah akibat perjalanan panjang.

Jam dua pagi, kami mulai berangkat dari basecamp. Molor dari target awal jam satu karena alarm tidak mampu membangunkan kami. Sebelumnya kami mempacking ulang isi tas untuk meminimalisir besar dan berat tas.

Pendakian dimulai dengan doa bersama di basecamp memohon perlindungan Tuhan agar senantiasa diberi keselamatan dan dapat kembali dengan selamat. Awalnya kami berjalan sangat cepat hingga membuat nafas kami tersengal-sengal *ini sebuah kesalahan*. Hingga kami harus beristirahat di gardu pandang New Selo sekaligus beradaptasi dengan cuaca yang dingin. Kami melanjutkan perjalanan, aku mengambil posisi paling di paling depan untuk membuka dan menunjukkan jalan *wegah ketinggalan :D* Belum ada berjalan seratus meter, senter biru ku pun bermasalah hingga akhirnya aku harus mengganti baterenya. Untung saja aku nemu batere di kantong tas, bayangkan kalo nggak, mungkin akan bergelap-gelapan :D.

Sepanjang pendakian cuaca sangat cerah, tanpa awan mendung yang berarti. Bahkan secara samar-samar nampak Gunung Merbabu menjulang di samping trek pendakian kami. Kami sangat bersyukur dan tidak berhenti berdoa agar cuaca cerah tersebut dapat tetap bertahan hingga kami di puncak. Kami menoleh ke atas, di langit nampak jutaan bintang bertaburan dan sesekali terlihat bintang berpindah atau bintang jatuh.

Dari rencana awal untuk berjalan pelan-pelan ternyata terlupakan. Tanpa sadar kami berjalan sangat cepat hingga akhirnya jam setengah lima pagi kami mulai memasuki daerah jarang vegetasi. Di kejauhan nampak puncak Merapi yang menantang dengan sesekali terdapat kerlipan cahaya senter yang berasal dari pendaki yang sudah berhasil mencapai puncak.

Sekitar jam lima pagi ternyata kami sudah sampai di pasar bubrah. Awalnya ku kira tempat itu adalah gua dimana aku dulu berlindung saat badai, ternyata sudah pasar bubrah yang merupakan daerah datar terakhir sebelum puncak merapi. Segera kami membongkar tas, mengeluarkan tenda dome dan mendirikannya.

Sempat kecewa dengan posisi tenda dome kami, karena secara tidak sadar kami membuat tenda membelakangi bukit pasir raksasa sehingga menutupi sunrise hingga terpaksanya kami harus berjalan balik ke arah bawah untuk dapat menikmati sunrise. Yuhuuuu, kami pun mendapat sunrise. Menakjubkan, berikut dokumentasi yang berhasil diabadikan :D








Tak lupa berdoa berharap keselamatan dan kesuksesan :)



Usai berfoto dan berdoa, jam enam pagi kami segera mulai berjalan menuju puncak. Kali ini trek yang dilalui benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Benar saja, trek menuju puncak adalah pasir dan batuan-batuan labil, naik dua langkah pasti mlorot satu langkah sehingga menghabiskan tenaga. Tidak hanya itu, terkadang batu yang diinjak teman di depan kita pun menggelinding ke bawah sehingga kita harus berpikir agar tidak terkena glundhungan batu yang berbahaya. Tak jarang kami harus berjalan dengan jarak yang sangat jauh dan terkadang sesukanya sendiri membuat jalan :D.

Jam setengah delapan kami tiba di puncak. Rasa lelah seperti luntur begitu saja terkalahkan oleh pemandangan di puncak. Sesekali bau belerang yang sangat menyengat mengganggu pernapasan hingga terkadang membuatku batuk dan terpaksa menggunakan masker. Di puncak, kami bertemu dengan teman pendaki dari SMK Temanggung, Teguh Santoso :D.

Segera kami berfoto di puncak!







Karena sudah semakin siang dan panas, kami segera meluncur turun menuju tenda dome yang kami dirikan untuk menaruh tas. Kami turun dengan teknik merosot karena kalau jalan malah jauh lebih berbahaya. Tidak sampai 30menit kami sudah sampai kembali di pasar bubrah. Sangat berbeda dengan perjalanan naik yang memakan waktu hingga satu setengah jam. Kami segera masak perbekalan, bongkar tenda dan meluncur ke bawah.

Perjalanan turun jauh lebih cepat dari perjalanan naik, sehingga sekitar jam dua belas kami sudah sampai di basecamp dan segera kembali ke sekretariat Palaci di SMA N 8 Yogyakarta.

Keesokan harinya kami mendengar kabar yang tidak enak. Beberapa pendaki merapi tewas karena kedinginan di puncak. Kami mengira kalau pendaki tersebut adalah teman yang kita temui kemarin, ternyata bukan. Syukurlah..

MERAPI à DONE 

Saturday, November 03, 2012

Iklan twitter

Halo.. Halo..
Follow twitter ku ya.
@riko_damasus

monggo klik aja link nya.. :D makasih

Thursday, October 04, 2012

Perjalanan Bersama Truk Ekspedisi

Punya banyak istri dan erat dengan prostitusi memang terkadang membuat profesi seorang sopir truk dipandang miring. Kadang polisi pun juga menjadikan mereka sasaran pungli di sepanjang jalan. Tapi mari kita lihat, tanpa jasa mereka, roda perekonomian antar pulau tak mungkin dapat berputar.

Waktu itu, Labuan Bajo nampak ramai sekali. Puluhan perahu nelayan memenuhi pelabuhan laut di ujung barat Pulau Flores itu. Sebuah kapal feri pun ikut bersandar tak jauh dari tempat itu. Tidak terlihat antrian tiket di loket. Karena ragu melihat lengangnya antrian tiket, kuberanikan diri bertanya pada petugas apakah ada feri ke Sape atau tidak. Lega dalam hatiku karena masih ada feri yang berangkat jam tujuh malam nanti. Tanpa pikir panjang aku segera beli tiket, lalu bersiap-siap keluar dari penginapan yang aku pesan beberapa jam lalu. Biarlah, aku harus berhemat waktu untuk menyelesaikan perjalananku yang melelahkan ini.


Jam setengah tujuh aku segera bergegas memasuki feri. Hanya sepintas petugas pelabuhan melirik tiketku lalu membiarkanku berjalan menuju feri. Mungkin nggak usah bawa tiket pun nggakpapa. Setelah melalui deretan lelaki yang duduk di pagar besi pembatas laut dan dermaga, belasan truk-truk raksasa, dan beberapa anak penjaja mutiara, masuk ke feri. Feri nampak longgar. Rupanya tak banyak penumpang yang naik karena ombak memang sedang tinggi-tingginya. Tapi bagian dasar kapal hampir penuh oleh truk-truk ekspedisi dan mobil.

Dalam perjalanan malam itu aku berkenalan dengan Stephen dan Karel. Yang satu kernet truk Kawi Indah, yang lainnya mantan pemburu paus di kepulauan Alor dan Solor. Karel asyik mengisahkan petualangannya berburu paus hingga tertangkap polisi perairan Australia, sedangkan Stephen cuma jadi pendengar setia. Akhirnya, feri sampai di Sape jam 3 pagi. Step menawari menumpang truknya sampai ke Bima. Tanpa pikir panjang aku menerimanya daripada kedinginan menunggu bus Sape - Bima yang baru tiba jam 7 pagi. Walau tampak pendiam, Pak Tua, panggilan akrab sopir Kawi Indah, amat ramah dan baik hati. Dia tak hanya mengantarku sampai ke Bima, tapi hingga ke perbatasan Lombok Tengah dan Timur. Mungkin jika tak ada keperluan di Praya, aku bisa ikut mereka ke Surabaya.

Truk Pak Tua melaju di jalan yang sangat lengang. Selain kami, ternyata masih ada 4 truk lagi di belakang. Konvoi truk ini membelah pagi yang dingin, berjalan beriring. Baru 2 jam perjalanan, sebuah truk menyalip sambil menyalakan klakson, mengajak Pak Tua berhenti. Ternyata, salah satu truk bannya meletus. Setelah menghentikan truk, semua awak turun. Sebagian membantu temannya yang terkena musibah, sebagian lagi istirahat dan asyik mengobrol di pinggir jalan.

Dan ternyata, ban meletus merupakan makanan kami sepanjang jalan. Dari truk yang satu ke truk lain, dari ban depan ke ban belakang. Tak kurang 2 - 3 kali ban sebuah truk meletus dalam semalam. Maklum, perjalanan memang panjang, bahkan puluhan ribu kilometer. Medan jalan pun berat, berliku, berbatu, rusak, atau aspal berpasir. Belum lagi beratnya beban yang dibawa, hingga 5 - 20 ton. Pantas kalau ban-ban truk ini cepat gundul. Truk-truk ini mengangkut hasil bumi dari flores seperti kopi, cengkeh, coklat, pisang, dan vanili. Tujuannya beragam. Ada yang ke Denpasar, Surabaya, dan Jakarta. Seperti Pak Tua yang mengangkut coklat menuju Surabaya.

Ternyata upah sopir truk seperti Pak Tua cukup besar. Sekali angkut barang ke Surabaya, dia dibekali uang jalan Rp 5-8 juta. Sebagian untuk pengeluaran seperti solar, tiket ferry, makan, dan dana darurat kalau-kalau ada kerusakan truk yang tak bisa diatasi sopir. Sisanya buat ongkos sopir truk dan kernet. Sayangnya uang jalan mereka kerap terpangkas untuk membayar pungli petugas dan pak polisi. Pak Tua dan kernetnya masih menerima upah bulanan dari bos. “Yah. pokoknya cukup untuk makan,” katanya tanpa mau menyebut jumlahnya.

Paginya kami beristirahat di sebuah warung kecil pinggir jalan, beberapa km di luar kota Bima. Sarapan pagi itu cukup dengan kopi, indomie, dan roti kampung. Para sopir nampak guyup dan akrab, saling bersenda gurau. Seperti saudara saja. Botol moke (semacam arak) dibagikan.

Selesai sarapan, dua polisi bermotor menghampiri. Mereka tampak berdebat dengan seorang sopir dan teman-temannya. Pungli kata Pak Tua. Entah apa kesalahan mereka, dua polisi menarik sebuah truk Rp 50.000. Ongkos parkir pinggir jalan, alasan polisi. 

Takut menjadi korban pungli berikutnya, kami segera melanjutkan perjalanan. Dibanding jalan-jalan di Flores yang rusak, berbatu dan penuh tikungan, jalan raya di Sumbawa beraspal halus dan lebar. Pak Tua pun menambah kecepatan. Kami melalui kebun-kebun pisang yang meranggas dimakan hama. Melihat saya terkantuk-kantuk, Step menyuruhku tidur di ruang belakang, tepat di belakang tempat duduk sopir. Di sana memang ada ruang untuk berbaring, cukup empuk dan hangat. Tapi sulit bagi saya memejamkan mata.

Sialan, lagi-lagi kami dihadang pungli seusai menyebrangi selat Sumbawa menuju Lombok timur tengah malam. Kali ini oleh petugas jembatan penimbangan selepas dermaga Labuhan. Semua truk pengangkut beban dikenakan UU karantina dan harus membayar Rp 100 per kg beban yang dibawa. Hampir satu jam para sopir dan awak berdebat dengan petugas, karena mereka merasa barang yang dibawa bukan untuk diekspor sehingga tak perlu dikarantina. Meski akhirnya diperbolehkan meneruskan perjalanan kembali, mereka harus mengeluarkan uang damai yang tak sedikit jumlahnya.

Ingat!! Mereka Tak Selalu Negatif

Semula aku ragu menumpang truk. Ingat cerita-cerita seram teman yang melakukan survey truk jalur pantura Jawa. Katanya, sopir truk menjadi pelanggan setia pekerja seks, dan penular aktif penyakit kelamin dan HIV-AIDS. Mereka juga tak tahan melihat perempuan. Tapi, kali ini sungguh berbeda. Mereka amat ramah, senang bercanda, sopan, dan murah hati. Pak Tua misalnya berkali-kali memberi tumpangan kepada perempuan dan anak-anak sepanjang perjalanan menuju Sumbawa.

Aku pun melihat untaian rosario menjuntai di atas kaca setirnya. Katanya, menjadi sopir truk bukan pekerjaan mudah. Berhari-hari duduk di belakang setir, membuat orang cepat bosan dan lelah. Sedikit saja kehilangan konsentrasi, bisa berakibat fatal. Karena itu sopir truk senang memberi tumpangan. Apalagi kalau yang diberi tumpangan senang bercerita.

Ketika kami beristirahat di sebuah rumah makan di Sumbawa Besar, para awak truk mempersilakanku mandi duluan. Dan ketika tiba waktu makan malam, mereka berlomba-lomba menraktir aku makan. Ah.. malu rasanya diperlakukan seperti itu, kan aku juga cuma orang biasa. Namun ada satu hal yang membuat aku makin terkesan, mereka menolak untuk diambil fotonya. Malu, alasannya.

Pak Tua tiba-tiba bertanya mengenai tujuanku. Akhirnya tepat di depan kantor polisi, aku meloncat turun setelah menyelipkan uang rokok ke kantong Pak Tua. Dia hanya tersenyum tipis sambil berpesan agar saya berhat-hati. Lalu truknya menderu dalam kegelapan, meninggalkan saya yang lupa menanyakan nama aslinya. Untung saya mendapat kenang-kenangan sarung Maumere pemberian Steph dan teman-temannya, serta pesan mereka agar tak ragu-ragu mencari konvoi truk mereka jika berkunjung ke Flores lagi.

Sungguh undangan persahabatan yang tulus.

Monday, September 24, 2012

Suka Duka hidup anak Kos


"Ngekos" itu boleh gue bilang asyik tapi bisa juga gak asyik. Kadang bisa senang, tapi kadang juga gak enak. Pokoknya ngekos itu penuh suka dan duka. Apa saja sih suka duka hidup ngekos? Langsung cus baca nyookkk...

Bagi saya (anak kos) maupun bagi mereka yang sudah pernah ngekos, tentu banyak pengalaman berkesan. Walaupun cuma ngekos sebentar (entah kenapa mungkin kerja atau apalah..) setidaknya ada beberapa pengalaman yang menyisakan kesan dalam benak mereka kan? Hmm... Sekali lagi ternyata ngekos itu susah-susah senang, pokoke penuh suka duka!

Biar lebih enak, mari kita mulai bicara hal-hal yang enak lebih dulu. Oke??
Siapa sih yang gak pengen hidup bebas? Jauh dari pengawasan orang tua, gak pengen diatur ini-itunya, kos lah yang menjadi salah satu jalan untuk menempuh semuanya.

Benar saja, salah satu yang ditawarkan dari hidup ngekos adalah kebebasan. Bebas bisa diartikan beraneka ragam. Sebagi contoh bebas bergaul kapanpun dimanapun. Asal kita bayar uang kos ke ibu kos :), kita mungkin bebas pulang kapan saja, tak ada jam malam (jam malam berlaku hanya untuk menerima tamu), kita nongkrong sampai jam berapapun gak ada yang melarang (tapi kosanku gak kaya gini.. maks jam 10 dah dikunci ToT).

Bebas dari kekangan orang tua. Di kos bakal tidak ditemui pengawasan langsung dari orang tua. Memang sangat manusiawi jika orang tua sangat mengawasi anak mereka, orang tua hanya berkeinginan agar anaknya menjadi orang yang baik dan benar, tapi kadang pengawasannya terlalu overprotektif sehingga menyebabkan si anak terkekang. Di sinilah letak tantangannya, orang tua dituntut untuk percaya penuh kepada sang anak, sementara sang anak dituntut untuk menjalankan amanah dan kepercayaan orang tua.

Lagi nih dukanya ngekos.. Ngekos = belajar mandiri. Ini bisa dikatakan enak namun bisa juga gak enak, kos itu perlu adaptasi terlebih dahulu. Hidup ngekos, merantau ke kota orang, kita dituntut mandiri (mandi pun sendiri :P), apapun dilakukan sendiri, kita yang awalnya nyuci bisa dicucikan pembantu di rumah kini kita harus meluangkan waktu untuk mencuci baju. Kita yang biasa makan tinggal ambil di dapur, kini harus pergi ke warung terdekat (Warung Makan Pak Yatin), bagi perempuan mungkin sudah terbiasa dengan aktivitas mencuci atau memasak, tapi bagi para lelaki kaya gue? hmm ... daripada repot memasak mending pergi ke warung saja deh. Kalau masak sendiri pun biasanya serba instant kan? Mie instant adalah menu utama tentunya, disini gizi yang tidak menjamin. Tak heran jika maag dan typhus adalah penyakit khas anak kos :(.

Dukanya?? Kalau ibu kos cerewet (maaf ya buk). Dimarahin ibu kos hampir pernah dialami rata-rata anak kos, masalah terkadang sepele, lupa matikan kran air kamar mandi lah, merokok, membawa teman kos sampai terlalu malam, atau telat bayar uang kos.

Kalau sakit gak ada yang ngerawat. Teman satu kos juga tidak 24 jam bisa menemani kita. Beda kalau di rumah, ada ibu yang merawat dan menjaga kita 24 jam layaknya kita kecil dahulu (aku kangen ibu di rumah T.T).

Ohya, anak kos harus pandai-pandai ngatur uang, hindari gali lobang-tutup lubang. Jangan sampai menerapakan kehidupan yang Senin makan Selasa puasa, Rabo ngutang Kamis dibayar. Kita ambil hikmahnya saja, semestinya dari awal hidup ngekos kita harus pintar mengatur keuangan, karena ngekos menjadi awal untuk hidup mandiri menuju kehidupan berkeluarga.

Tapi broo.. Jangan terpengaruh dengan kehidupan bebas sebebas-bebasnya, manage diri dengan baik, tetap ikuti norma dan jalan lurus yang ada. Bebas bukan berarti mengikuti alur yang tidak sehat, tetap jaga kepercayaan orang tua, tetap jalani amanah yang ada. Oke??

Sekian. 

Saturday, September 22, 2012

Jalur Pendakian Merbabu via Selo, Cuntel, Wekas dan Kopeng

Berlanjut setelah Pendakian Merbabu #1, cuma mau share aja jalur-jalur pendakian gunung Merbabu. Semoga bermanfaat buat yang ingin nyoba naklukin gunung ini.

Merbabu via Selo

Merbabu via Cuntel, Thekelan, Wekas

Posisi duo Merbabu Merapi

Wednesday, September 19, 2012

Keajaiban Doa

Aku sekedar mau share pengalaman pribadiku. Pengalaman yang menakjubkan bagiku. 

Kamis, 6 September 2012. Waktu itu aku terpaksa pulang malam karena ada hal yang harus ku kerjakan. Pas sampai di kos, aku sangat lelah secara fisik maupun mental. Belum lagi aku belum makan malam, mengerjakan tugas, hingga nyuci pakaian. Segera aku mencuci dan makan di warung burjo. Waktu itu pikiran dah nggak karuan karena emosi semrawut dan saking lelahnya.

Setibanya di kos lagi, aku teringat dengan tugas biologi. Padahal itu sudah pukul 22.00. Disitu aku disuruh untuk bikin video animasi tentang materi protista. Semua video yang diedit sudah kupersiapkan, buka ulead - after effect - movie maker. Namun, emosiku kembali semrawut ketika semua program tersebut tidak dapat membuka video-video tersebut. Ditambah lagi, kemarin aku lupa ngopi video converter milik temanku.

Tanpa alasan jelas, aku marah-marah pada temanku tersebut. Aku melampiaskan emosiku padanya, bahkan smsku pun berisi kata-kata kotor yang. Jujur saja saat itu aku sangat emosi, laptop pun sempat aku pukul.

Hingga akhirnya, temanku tersebut menyuruhku untuk beristirahat sejenak (tidur). Namun aku tidak mau karena belum selesai. Aku tak mau, dan akhirnya temanku tersebut memintaku untuk berdoa. Oke, aku pun menenangkan pikiran. Mencoba berdoa spontan dan diikuti doa tersebut.

Finally, setelah aku selesai berdoa entah kenapa pikiranku jadi tenang. Dari sebelumnya yang benar-benar emosi, meluapkan kata-kata kotor. Aku benar-benar merasakan kehadiran Tuhan yang menyertai, Ia menyertaiku dalam mengerjakan tugas tersebut. Aku pun diberikan kemudahan, pikiran yang tenang dan jalan yang lancar. Segera isi modem dan download video converter dengan internet yang lambat sekali (aku pun jadi sabar). Aku konvert satu persatu, aku gabungkan video-video tersebut. Render, dan akhirnya selesai tepat pukul 24.00. Aku pun kembali berdoa untuk mengucapkan terima kasih pada Tuhan.

Keesokan harinya, aku minta maaf pada temanku atas sms semalam. Untung saja dia memaafkan. Aku juga berterimakasih karena sarannya padaku untuk senantiasa berdoa. Sebab jika tidak, mungkin tugasku itu nggak bakal selesai. :D

- Tuhan selalu ada dalam keadaan bagaimanapun -

Terimakasih.